Tuesday, June 04, 2013

Geliat Batik Sumedang



Sumedang, daerah sarat peninggalan budaya ini tak hanya dikenal sebagai kota tahu. Sumedang juga memiliki banyak industri kreatif lainnya. Sebut saja Batik Sumedang. Mungkin nama Batik Sumedang tidak terlalu dikenal seperti batik lain di Indonesia. Namun, Batik Sumedang kini mulai diminati pecinta batik.

Batik Sumedang juga disebut dengan Kasumedangan dan memiliki pola ceplokan. Beberapa perajin memiliki kreasi motif sendiri dan terkadang menamai batiknya sesuai dengan tempat maupun kondisi saat itu. Beberapa nama yang merupakan kreasi para perajin batik di Sumedang.

Salah satu pionir perajin Batik Sumedang adalah Ibu Ina Mariana di Kecamatan Pamulihan, Sumedang. Ina dan perajin lainnya  bekerja sama dengan beberapa pihak yang peduli untuk turut mengangkat batik khas daerahnya sebagai salah satu aset budaya Indonesia.

Menurut Ina, Batik Sumedang sudah dipopulerkan sejak tahun 1990-an. Kepopuleran Batik Sumedang juga karena  upaya pemerintah menyosialisasikannya dengan menganjurkan pemakaian seragam batik bagi para pegawai pemerintah daerah.

Adapun motif-motif Batik Sumedang misalnya Lingga, Pintu Srimanganti, Mahkota (siger), Klowongan tahu, Kembang Boled, dan Hanjuang. Motif Kembang Boled misalnya, terinspirasi dari salah satu produk unggulan Kabupaten Sumedang yang terkenal dengan ubi atau hui Cilembu. Namun, sebagian besar, ujar Ina, motif Batik Sumedang terinspirasi dari sejarah kerajaan Geusan Ulun di Sumedang.

Motif-motif tersebut juga turut dipengaruhi oleh daerah lain seperti Cirebon, Yogya, bahkan Solo. Misalnya Ragam Hias “Taburan Merica”, “Taburan Beras”, dan “Merak Ngibing”.

Perajin batik lainnya adalah Hj. Ecin. Ecin membuka bengkel batiknya di Desa Cibeureunyeuh Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang. Dengan nama Dapur Batik An-Nur Sumedang, Ecin memopulerkan batik dengan motif cadas pangeran. Ecin sengaja mengangkat keindahan alam cadas pangeran yang sangat eksotis. Selain itu,  batik Sumedang ini juga mempunyai perpaduan warna yang berbeda dengan batik-batik lainnya yang ada di Jawa Barat.

Menurut Ecin, perajin batik di daerah Sumedang dituntut untuk memiliki inovasi untuk mengangkat daerah Sumedang. Pemerintah Kabupaten Sumedang, ujar dia, sangat mendukung dalam pelestarian Batik Sumedang. Bahkan, beberapa motif Batik Sumedang dimasukkan ke dalam Peraturan Daerah.

"Misalnya motif Lingga, motif mengenai pusaka. Juga motif Ragam Hias yang ketika dahulu zaman Prabu Siliwangi harus ada di setiap rumah,"ujar Ecin.

Menurut Ecin, masing-masing perajin mempunyai kreasi. Namun, tetap mengacu pada Perda. "Kalau di Sumedang batik memang belum terlalu memasyarakat. Apalagi perajinnya hanya sedikit. Bengkel batik hanya ada empat di Sumedang. Terutama pionirnya Ibu Ina Mariana,"ujar Ecin.

Batik tulis Sumedang juga mulai terlupakan. Terutama setelah populernya tekstil bercorak batik. "Batik cap bisa dibeli dari harga Rp 40 ribu. Sedangkan batik tulis bisa sampai jutaan,"ujar dia. Maka dari itu, ia dan perajin lainnya tidak berani untuk memproduksi banyak batik tulis. Selain proses pembuatannya yang lama, harganya pun bisa sampai puluhan juta Rupiah.

"Kami membuat batik tulis tergantung pesanan, jika sengaja produksi sendiri khawatir pembelinya tidak ada,"ujar dia.

Meski belum banyak diproduksi, Batik Sumedang, kata dia, juga mulai diminati pecinta batik di luar negeri. Ia mengaku, belum lama ini mendapat pesanan dari Malaysia dan Singapura. Setiap bulan, memesan hingga 40 potong kain batik Sumedang.

Ia berharap, pemerintah terus memberi fasilitas untuk perkembangan Batik Sumedang. Terutama dalam fasilitas pembelajaran dan pelatihan memproduksi batik dan memasarkannya.  "Sebenarnya bisnis batik lumayan menjanjikan, namun belum terarah pemasarannya,"ujar dia.


0 komentar:

Post a Comment

Kasih komen yaaaaa

Google Translation

Share it