Saturday, May 01, 2010

Etika dan Tanggung Jawab Ilmuwan [Gayaa benerrr]

Dunia ilmu pengetahuan ialah dunia fakta, sedangkan life world mencakup pengalaman subjek-praktis manusia ketika ia lahir, hidup, dan mati, pengalaman cinta dan kebencian, harapan dan putus asa, penderitaan dan kegembiraan, kebodohan dan kebijaksanaan. Dunia ilmu pengetahuan ialah dunia objektif, universal, rasional, sedangkan life world adalah dunia sehari-hari yang subjektif, praktis dan situasional.

Lebih dari itu, yang mau ditunjukkan adalah bahwa kita memang hidup dalam dua dunia ini : dunia ilmu pengetahuan dan dunia praktis. Ilmu pengetahuan menawarkan cara kerja rasional. Prinsip kasualitas misalnya menjadi prinsip rasional dari ilmu pengetahuan. Sementara itu kita juga tidak bisa melepaskan diri dari dunia sehari-hari dan tradisi dengan segala macam bentuk kepercayannya dan prakteknya.

Dampak ilmu pengetahuan terhadap life world masyarakat dapat diklasifikasikan kedalam dua kategori. Yang pertama dampak intelektual langsung, terutama perubahan cara pandang tradisional terhadap realitas; dan yang kedua dampak tidak langsung, melalui mediasi teknik-teknik ilmiH, terutama teknik-teknik produksi dan organisasi social.

Rasa ingin tahu akan keterangan mengapa suatu hal terjadi yang kemudian dikait-kaitkan dan digolong-golongkan sehingga hal yang tersendiri itu dapat dianggap mewakili suatu peristiwa yang berlaku lebih umum itulah akhirnya yang membangkitkan sains atau ilmu pengetahuan. Mohr (1977) mendefinisikan sains secara operasional sebagai suatu usaha akal manusia yang teratur dan taat azas menuju penemuan keterangan tentang pengetahuan yang benar. Oleh karena itu tanggung jawab utama ilmuwan terhadap dirinya sendiri, sesame ilmuwan, dan masyarakat ialah menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dibuatnya dan dapat dinuat oleh sesame ilmuwan lainnya. Dengan demikian selain menjaga agar semua pernyataan ilmiah yang dibuatnya selalu benar, ia harus memberikan tanggapan apabila ia merasa ada pernyataan ilmiah yang dibuat ilmuwan lain yang tidak benar. Tanggung jawab ilmiah seperti ini adalah tanggung jawab masyarakat ilmiah yang lazim dan sudah berlaku turun-temurun. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa seorang ilmuwan seharusnya tidak menerima begitu saja menerima pernyataan seorang ilmuwan lain sebagai sesuatu yang benar, walaupun misalnya ilmuwan yang dihadapinya itu adalah ilmuwan ternama. Dan tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan perasaan karena pengembangan ilmu berdasarkan prasangka ini harus dibayar mahal, karena tidak mustahil banyak bakat-bakat terpendam telah salah diarahkan ketika lulus dari sekolah dasar dan tidak muncul di permukaan sebagai kaum yang cerdik pandai.

Kita dapat menegaskan kembali bahwa tujuan sains ialah menemukan pengetahuan yang benar mengenai berbagai keadaan alam semesta. Kewajiban batiniah seorang ilmuwan ialah memberikan sumbangan pengetahuan baru yang benar saja ke kumpulan pengetahuan benar yang sudah ada, walaupun ada tekanan-tekanan ekonomi atau social yang memintanya untuk tidak melakukan hal itu karena tanggung jawabnya ialah memerangi ketidaktahuan, prasangka, dan takhayul di kalangan manusia mengenai alam semesta ini.

Oleh karena itu di kalangan masyarakat ilmuwan ada sekumpulan pedoman kerja yang disepakati harus diikuti oleh seorang ilmuwan yang terhormat. Pedoman kerja itu secara ringkas mencakup butir-butir berikut :



1. Bekerjalah dengan jujur.

2. Jangan sekali-kali menunggangi data.

3. Selalulah bertindak tepat, teliti dan cermat.

4. Berlakulah adil terhadap pendapat orang lain yang muncul terlebih dahulu.

5. Jauhilah pandangan berbias terhadap data dan pemikiran ilmuwan lain.

6. Jangan berkompromi tetapi usahakanlah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan tuntas.



Masalahnya adalah sekiranya seorang ilmuwan menemukan sesuatu yang menurut dia berbahaya bagi kemanusiaan maka apa yang harus dia lakukan? Apakah dia menyembunyikan penemuan tersebut sebab dia merasa bahwa penemuan itu banyak menimbulkan kejahatan dibandingkan dengan kebaikan? Ataukah dia akan bersifat netral dan menyerahkannya kepada moral kemanusiaan untuk menentukan penggunaanya?

Menghadapi masalah tersebut majalah fortune mengadakan angket yang ditujukan kepada ilmuwan di USA. Berdasarkan hasil angket tersebut, lebih dari 75 persen menyatakan bahwa ilmuwan tidak boleh menyembunyikan hasil penemuan mereka apaun bentuknya dari masyarakat luas serta papun yang menjadi konsekuensinya. Kenetralan ilmuwan dalam hal ini disebabkan anggapannya bahwa ilmu pengetahuan merupakan rangkaian penemuan yang mengarah kepada penemuan selanjutnya. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak melalui lncatan-loncatan yang tidak berketentuan melainkan melalui proses komulatif secara teratur. Penyembuhan penyakit kanker harus didahului dengan penemuan dasar di bidang biologi molekuler. Penemuan laser memungkinkan penggunaannya sebagai terapi medis dalam berbagai penyakit. Demikian selanjutnya di mana usaha menyembunyikan kebenaran dalam proses kegiatan ilmiah merupakan kerugian bagi kemajuan ilmu pengetahuan selanjutnya. Dalam penemuan ini ilmu pengetahuan bersifat netral.

Seorang ilmuwan tidak boleh memutarbalikan penemuannya bila hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun di atas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena beertentangan dengan fakta-fakta pengujian. Seorang ilmuwan yang di atas landasn moral memilih untuk membuktikan bahwa generasi muda kita berkesadaran tinggi (dia terikat pada generasi muda) atau membuktikan bahwa hasil pembangunan itu efektif (dia terikat pada kebijaksanaan pemerintah) maka dalam hasil penemuannya dia bersifat netral dan membebaskan diri dari semua keterikatannya yang membelenggu dia secara sadar atau tidak. Penyimpangan dalam hal ini merupakan pelanggaran moral yang sangat dikutuk masyarakat ilmuwan. Kenetralan dalam hal di atas itulah yang menjadikan ilmu bersifat universal. Ilmu mengabdi kemanusiaan dengan menyumbangkan penemuan-penemuan yang didapatkannya lewat kegiatan ilmiah.

Context of discovery menyangkut konteks dimana ilmu pengetahuan ditemukan. Yang mau dikatakan disini adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak terjadi, ditemukan, dan berlangsung dalam kevakuman. Ilmu pengetahuan selalu ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang dan waktu tertentu, dalam konteks sosial tertentu. Jadi ilmu pengetahuan tidak muncuk dengan sendirinya. Ada konteks tertentu yang melahirkannya. Oleh karena itu, tidak bisa disangkal bahwa dalam melakukan kegiatan ilmiahnya, ilmuwan dimotivasi oleh keinginan, baik itu bersifat personal maupun kolektif, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang lebih luas dari sekedar kebenaran ilmiah murni. Dengan kata lain, ada banyak faktor yang jauh lebih luas dari sekedar faktor murni ilmiah, yang ikut mendorong lahirnya ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan itu, tidak bisa dimungkiri bahwa ilmuwan bisa saja melakukan kegiatan bukan demi kepentingan ilmiah hanya demi memperoleh penghargaan, sesuatau yang jauh sekali dari pertimbangan ilmiah murni. Juga bisa karena pertimbangan faktor-faktor ideologis, kultural, religius, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Jadi, harus diakui ilmu pengetahuan berkembang dan berlangsung dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, sulit dibayangkan bahwa ilmu pengetahuan sejak awal tidak bertalian, bersentuhan, dan peduli dengan nilai-nilai dan segala hal sepele di luar ilmu pengetahuan.

Context of justification adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah. Inilah konteks dimana kegiatan ilmiah dan hasil-hasilnya diuji berdasarkan kategori dan criteria yang murni ilmiah. Dimana yang berbicara ialah data dan fakta apa adanya serta keabsahan metode ilmiah yang dipakai tanpa mempertimbangkan kriteria dan pertimbangan lain diluar itu. Segala faktor ekstra ilmiah harus ditinggalkan. Atau lebih jelasnya dalam konteks ini ilmu pengetahuan mau tidak mau akan bebas nilai, berkebalikan dengan Context of discovery. Seorang ilmuwan seharusnya lebih mementingkan Context of justicication, karena meskipun dalam proses penemuan sebuah hukum ilmiah atau teori ada berbagai nilai, faktor, dan pertimbangan ekstra ilmiah yang ikut menentukan, tetapi ketika sampai pada tahap pengujiannya, kebenaran hukum atau teori itu tidak bolehditentukan oleh faktor di luar ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, pada tahap penemuan ilmu pengetahuan memang tidak otonom seratu persen. Tetapi pada tahap pengujian, ilmu pengetahuan harus otonom mutlak.

Watak ilmuwan

Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, Karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi dengan cepat dan menjadi lebih mudah. Dan kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. Ilmu telah banyak mengubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti transportasi, pendidikan, komunikasi dan lain sebagainnya. Singkatan ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.

Disisi lain ilmu pengetahuan tidak hanya dapat merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga dapat bersifat negatif yang akhirnya menimbulkan malapetaka. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, manusia dapat menciptakan berbagai bentuk teknologi yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia namun pada akhirnya justru menyulitkan bahkan menimbulkan malapetaka bagi manusia. Sebagai contoh dalam pembuatan bom kuman yang dipakai sebahgai alat untuk membunuh sesama manusia. Untuk menghindari berbagai kemungkinan hal yang bersifat negatif tersebut diperlukan pemahaman tentang ilmu pengetahuan yang berpihak pada nilai-nilai.

Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah teknologi yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tentu saja tidak lepas dari si Ilmuwannya. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuan serta masalah bebas nilai. Maka dari itu, tanggung jawab seorang ilmuwan haruslah berdasarkan pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis, dan tanggung jawab moral.

Dalam perkembangan keilmuan, seorang ilmuwan harus memahami etika, baik itu sebagai suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia maupun sebagai suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia yang lain. Dari pemahaman tersebut dapat dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik dalam suatu kondisi yang melibatkan norma-norma.

Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Jalan pikirannya tidak hanya mengalir melalui pola-pola yang teratur namun juga segenap materi yang menjadi bahan pemikirannya dikaji dan diteliti. Hal inilah yang membedakan antara ilmuwan dengan orang awam. Disinilah ilmuwan sebagai pemeran penting dalam meluruskan segala pemikiran orang awam yang pada umumnya keliru dalam membuat suatu asumsi maupun suatu keputusan.

Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi yang etis bagi seorang ilmuwan. Karakteristik tersebut merupakan kategori moral yang melandasi sikap etis seorang ilmuwan. Kegiatan intelektual yang meninggikan kebenaran sebagai tujuan akan berpengaruh pada pandangan moral. Selain memberikan suatu informasi, ilmuwan juga harus bisa memberikan contoh. Dalam hal ini ilmuwan harus bisa berlaku obyektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan harus bisa mengakui kesalahan.

Landasan moral yang fundamental sangat perlu diperhatikan oleh seorang ilmuwan. Ilmu harus bersifat netral seperti yang dimaksud oleh Keraf dan Dua bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan hanya semata-mata berdasarkan pertimbangan ilmiah murni. Di samping itu ilmu pengetahuan juga harus berpihak kepada kemanusiaan yang besar dan tidak mengenal batas geografis, sistem politik, atau sistem kemasyarakatan lainnya. Sebagai kesimpulan, diperlukan landasan moral yang kukuh untuk mempergunakan ilmu pengetahuan secara konstruktif terutama untuk para ilmuwan.

DAFTAR PUSTAKA



Bakhtiar, Amsal .2007.Filsafat Ilmu. Jakarta.: M.A. PT Raja Grafindo Persada

Keraf, A.Sony dan M. Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Bab IX Ilmu Pengetahuan dan Life-World (hal. 133-140) dan Bab XI Masalah Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan (hal. 149-158). Penerbit Kanisius: Yogyakarta .

Nasution, A.H.1999.Pengantar ke Filsafat Sains. Bab 4.0 Pengetahuan, Sains dan Tanggungjawab Ilmuwan (hal.25-36). Bab 16.0 Tanggungjawab Ilmuwan Terhadap Masa Depan Umat Manusia (hal.193-215). Litera AntarNusa: Jakarta.

Suriasumantri, J.S.2001. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Bab VI Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmmu (hal.229-260). Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.

0 komentar:

Post a Comment

Kasih komen yaaaaa

Google Translation

Share it